Aku masuk ke dalam sebuah outlet burger yang berdiri di salah satu taman hiburan tertua di kotaku.
Kulepaskan tas ransel dari punggungku dan kusampirkan di tempat biasa aku meletakannya. Aku lalu
melangkah menuju dapur. Tidak, jangan bayangkan aku melewati banyak pintu untuk
sampai ke dapur. Tempat pemesanan, tempat pembuatan, dan tempat pembayaran,
posisi ketiganya saling berdekatan. Meskipun sudah puluhan tahun berdiri, outlet milik keluargaku ini tetap pada ukuran asalnya. Tidak berubah.
“Selamat sore!” aku menyapa dan mencium pipi seorang
wanita yang seluruh helai rambutnya sudah memutih.
“Kurasa kau satu-satunya anak sekolah menengah atas
yang masih mencium pipi neneknya sepulang sekolah,” ucap salah seorang pegawai.
Aku tertawa. “Semua orang harus tahu, aku selalu senang
menjadi satu-satunya salam segala hal,” aku menanggapi. “Apa tidak ada yang
bisa kumakan?” tanyaku kemudian.
Seorang wanita berumur yang tengah merapikan piring
menoleh ke arahku. “Kalau kau mau datang untuk makan, datanglah lebih awal.
Sekarang kita sudah mau tutup,” ujarnya.
Aku cemberut. “Aku kurang beruntung!” aku lalu
mengumpat pelan.
“Tapi untuk cucuk Nenek yang paling cantik di negeri
ini, akan Nenek siapkan menu paling istimewa dari outlet kita. Kau mau?”
Aku melihat sebuah, ah atau seorang, entahlah, badut
lewat di depan tokoku. Wajahnya sejenak menoleh ke arahku. Seperti yang
kubilang, outletku tidak besar, jadi dari tempat memasak pun aku bisa melihat
orang-orang yang berada di luar. Termasuk badut itu.
“Siapa yang sedang kau lihat? Badut?” tebak nenekku.
Aku tersenyum lebar bak bintang iklan pasta gigi.
“Nenek, tolong buatkan aku tiga menu paling spesial!”