Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts

Friday, May 30, 2014

Ayah Cita

"WHOAH!" Aku berdecak takjub melihat rumah megah milik Ayah Cita.

Langit-langit penuh ukiran disangga tiang-tiang kokoh yang membelah marmer cokelat dingin. Guci-guci antik yang kutahu tidak dijual di dalam negeri. Etalase berisi berbagai macam penghargaan di dunia bisnis. Laki-laki ini benar-benar pekerja keras. Tidak heran dulu orangtuaku menjodohkanku (secara paksa) dengannya.

Entah berapa pekerja rumah tangga yang mengurus rumah ini. Tidak ada secuil pun debu di belahan mana pun ruangan tempat aku duduk di sofa empuk yang terasa ribuan kali lebih nyaman dibanding sofa tua di rumahku.

Aku menghisap rokokku dalam kemudian mengepulkan asap berbentuk lingkaran dari mulutku.

"Aku tidak punya asbak. Tidak ada yang merokok di rumah ini," ucap Ayah Cita yang baru saja datang, setelah ia meletakkan secangkir teh hangat di meja marmer di depanku.

Saturday, May 10, 2014

Orang Asing

Teman curhat terbaik adalah orang asing.

Kalimat itu terus berputar di kepalaku sejak aku memutuskan kabur dari rumah hingga saat ini aku berada di trotoar sebuah jembatan layang di atas laut yang dibangun begitu megah oleh pemerintah. Salah satu jembatan kebanggaan dunia, katanya.

Monday, May 5, 2014

Menanti Kabar Ayah

Dulu banget pernah ngepost cerita ini cuma pas dibaca ulang oh sungguh nggilani gitu ewh terus ini abis dipermak sana sini jadi re-post aja walopun gak cantik-cantik amat atau malah worse than before tapi yang lalu biarlah berlalu deh ini semacam buka lembaran baru.

Apa itu dingin? Maksudku, benda seperti apa ia? Bagaimana bentuknya? Benarkah ia dapat menusuk kulitmu dan menyeruaki setiap lapis jaringan epitelmu? Membuatmu menggigil dan enggan melakukan apa pun? Apakah ia sekejam itu?
Ini adalah malam keempat aku duduk sendiri di balkon rumahku. Ah, tidak, aku tidak sendiri. Sesuatu bernama dingin itu menemaniku. Musim penghujan. Tiada hari tanpa eksistensi presipitasi cair hasil kondensasi uap air di atmosfer yang kemudian turun membasahi bumi. Aku dan dingin. Kami bak sahabat setia yang selalu menghabiskan malam bersama dalam keheningan. Tidak ada bunyi, atau lebih tepatnya, aku menutup telinga dari segala macam jenis suara.

Monday, March 24, 2014

TAMU


Aku terkejut mendengar seseorang berteriak dengan lantang di depan rumahku. Padahal ini bukan kali pertama, tapi aku tetap saja terkejut. Suara abang penjual sayur keliling itu memang tidak bisa diremehkan. Kurasa ia lebih cocok menjadi orator dibanding mendorong gerobak sayur. Aku tiba-tiba tertawa sendiri dalam hati. Orator itu apa? Aku masih duduk di sekolah menengah pertama, jadi sebenarnya tidak tahu benar artinya. Hanya pernah mendengar kata itu beberapa kali di tivi. Lagipula, sepertinya kata itu tidak terlalu familiar bagi keluarga menengah ke bawah yang tinggal di desa seperti keluargaku. Tunggu, familiar itu apa?

“BERANGKAT, NENG?”

Aku mendongak. “Bang, nanya atau marah-marah?” timpalku pada pria berkumis yang di lehernya tersampir handuk putih yang warnanya tidak lagi putih. Aku lalu tertawa kecil.

Penjual sayur itu ikut tertawa. “SI ENENG BISA AJA!” Laki-laki itu lalu melanjutkan langkahnya sambil mendorong gerobaknya, membuat plastik-plastik berisi ikan teri yang tergantung di bagian atas gerobak bergoyang ke kanan dan ke kiri.

Aku kembali menundukkan kepala dan mengikat sebelah lagi tali sepatuku. Kuseka rambut panjangku yang mengganggu ke belakang telinga kiri. Satu ikatan lagi. Selesai. Aku berdiri dan tiba-tiba saja terkejut saat mendapati seorang perempuan dengan selendang menutupi kepalanya tengah berdiri dengan elegan di depan rumahku.

Jangan tanyakan padaku apa itu elegan.

Tuesday, February 25, 2014

Eksklusif

Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama atau cerita, hal tersebut murni tidak disengaja.

Aku melangkah memasuki lobby sebuah gedung mewah milik pemerintah yang berdiri kokoh di pusat Ibu Kota. Kuhampiri meja receptionist yang dijaga oleh dua wanita cantik dengan rambut klimis yang disanggul rapi.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya salah satu receptionist di hadapanku dengan ramah.
“Saya mau ketemu Pak Binarta Dandrearta,” ucapku santai.
“Apa Anda sudah membuat janji?” tanya wanita itu lagi.
“Emm… belum sih,” jawabku. “Tapi bilang aja kalo Natasha Arta mau ketemu,” aku menambahkan.
“Maaf, Anda tidak bisa bertemu kalau belum membuat janji dengan beliau.”

Saturday, February 22, 2014

Bro

“Siapa yang memulai?”
Tiga orang yang berdiri di sampingku kompak menunjuk ke arahku.
“Kau... lagi?” tikam seorang guru BPK yang berdiri di hadapanku. “Kenapa kau memukul mereka?” tanyanya.
Aku tak menjawab, juga tak sama sekali mengangkat kepala demi menghindari matanya yang kini tengah merah membara. Sangat marah, kutahu.
“Anggar! Apa kau tidak memiliki telinga?!” wanita itu berkata tegas. Tidak berteriak, tapi jelas betul membentak.
Aku tetap tidak memberikan respon apa pun.

Tuesday, September 3, 2013

A Hospital

Seorang pria berdasi dan berjas hitam mahal buatan luar negeri tengah berdiri di balik podium gagah, di atas panggung mewah, di dalam auditorium megah. Memberikan sambutan di hari peresmian rumah sakit miliknya. Rumah sakit yang kelak menjadi salah satu rumah sakit terbaik di Ibu Kota.

"Dan ada satu hal yang akan saya ceritakan di depan Anda semua," pria itu melanjutkan kalimatnya. Suaranya berat, memperdengarkan ketegasan dan kearifan dalam setiap tautan kata-katanya. Ia tersenyum kecil. Senyum yang sangat sederhana.

"Saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya tidak sama sekali memiliki keinginan untuk terjun ke dunia medis. Apalagi untuk membangun sebuah rumah sakit. Sampai akhirnya ibu saya menderita penyakit kanker. Ibu saya adalah wanita yang paling berharga yang pernah saya miliki. Saat itu, beliau adalah satu-satunya wanita yang ada dalam hidup saya. Satu-satunya bahu tempat saya bersandar, satu-satunya tangan yang menuntun saya dalam setiap langkah, dan satu-satunya hati yang menyayangi saya sepenuhnya. Dan beliau meninggal sebelum saya berhasil menemukan Dr. Syahril."

Audiens mendadak kompak bersuara. Tak jelas. Auditorium bergumuruh oleh gumaman masing-masing para tamu. Dr. Syahril?

"Iya, Dr. Syahril. Anda semua pasti mengenal beliau, bukan?" pria di balik podium itu mengiringi pertanyaannya dengan tersenyum.

Sunday, November 4, 2012

Bukan Hujan Yang Sama


Hujan memberikan cerita berbeda seiring bertambahnya usia. Usiaku, bukan usianya. Hujan juga memberikan kesan yang tak sama selama perjalanan hidupku. Hujan yang turun di waktu yang berbeda, bukanlah hujan yang sama. Kau keliru jika kau merasa bertemu hujan ketika ia turun setelah lama merindukannya. Karena hujan yang kau rindukan dengan hujan yang datang kemudian adalah hujan yang berbeda.

Friday, October 12, 2012

The Guardian




Aku menatap Fakhri dari depan kelasku. Senyum yang selalu ia berikan pada setiap orang yang menyapanya, sinar yang selalu hangat terpancar dari matanya, dan tutur kata lembutnya yang kuyakin tak ada seorangpun yang bosan berbicara lama-lama dengannya.
Miris. Kenapa ia sangat berbeda? Aku kembali mengingat kejadian kemarin malam, saat Fakhri memarahi seorang anak usia 3 tahun dengan –menurutku- cukup kasar.
Aku baru saja selesai mandi saat kudengar Fakhri sedikit berteriak dari ruang tengah.
"Ini tuh, huruf D!" teriak Fakhri. "Bisa bilang D gak sih?! Dari tadi A B C terus, gimana mau bisa?!" lanjutnya.
Aku cepat-cepat membungkus rambutku yang masih basah dan lari ke ruang tengah, tempat Fakhri -seharusnya- mengajarkan putrinya mengenali huruf.
"Ini tuh, huruf D! DE!!!" teriak Fakhri sambil menunjuk, oh tidak, ia menekan huruf D di buku panduan pengenalan huruf di depannya.
Aku langsung meraih anak perempuan mungil yang sekarang sedang menangis ketakutan dipelototi ayahnya, bukan sedang mendapatkan pelajaran seperti yang aku ucapkan sebelum aku melangkah ke kamar mandi, "Belajar baca dulu ya, sama Ayah."
Ah, laki-laki ini. Aku tak habis pikir bagaimana ia bisa membentak anak usia 3 tahun hanya karna tidak mengenali huruf D. Aku tak berkata apa-apa, hanya menggendong Kaira, mencoba menenagkannya, sambil menatap kesal kearah ayahnya.

Monday, August 6, 2012

Bukan Satu

NOTE:
There was a nice fict titled "NOL" created By Hadiqal:
http://aboxofglass.blogspot.com/2012/07/nol.html 

And this is the other point of view :)
______



Tik… Tik… Tik…
Pukul 3 pagi, aku menatap jam weker digital di meja kamarku. Memastikan dua titik di tengah angka pada jam itu tetap hilang, muncul, hilang, muncul, dan terus seperti itu dengan jarak waktu yang sama, tidak bertambah cepat. Seperti tidak pernah mengenal kata bosan sepanjang perjalanan rumahtanggaku, aku menunggu Reza, suamiku, masuk kedalam kamar.

Lama, dan tak juga terdengar tanda-tanda langkah kaki mendekati kamar kami. Mungkin suamiku sangat sibuk diruangannya.

Aku bangkit dan menuju kamar kerja Reza. Perlahan kubuka pintunya. Sejenak, kupandangi tubuhnya yang tampak begitu lelah, wajahnya yang sedikit pucat pasi, dan sinar matanya yang tak jelas memancarkan warna apa. Terlalu banyak yang harus ia pikirkan, sepertinya.

“Reza,” aku memanggil namanya, lembut.

“Apa?” sahutnya, dingin, dan tanpa menoleh sedikitpun kearahku. Sama seperti malam-malam sebelumnya.

Saturday, December 31, 2011

Kiki

*Dedicated to all of my precious Kiki in my own world*

Kemarin adalah hari kelahiran anak pertamaku, 30 Desember 2011. Kau tau bagaimana rasanya melahirkan anak pertama? Aku yakin kau tak akan tau jika belum sama sekali merasakannya. Aku bahkan sulit mengungkapkannya. Jika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ada satu kata yang artinya adalah "amat sangat teramat super bahagia" atau sejenisnya, aku masih belum bisa menggunakan kata itu. Lebih dari bahagia, kurasa. Anak pertamaku seorang putri mungil, rambutnya hitam tebal, ada lesung pipit kecil dipipi sebelah kanan, dan bulumatanya sangat lentik. Cantik sekali. Dan aku, sejak pertama positif hamil, sudah sangat yakin ingin memberikan nama KIKI pada anakku. Perempuan, atau laki-laki, anakku harus bernama Kiki. Siapapun nama lengkapnya, panggilannya harus Kiki. Titik.
Tapi suamiku dan seluruh keluarga besar, tak ada satupun yang setuju dengan usulku. Payah sekali mereka. Tak taukah betapa berarti nama Kiki untukku? Bahkan sejujurnya, sebelum menikahpun, aku sudah memiliki rencana itu. Tapi kini semua berantakan karena perizinan yang sulit dari... ah, kenapa laki-laki ini menyebalkan sekali. Juga keluarga besar, apa-apaan ini? Mereka terhasut wajah manisnya, sehingga tak ada satupun yang setuju dengan usulanku. Payah sekali.

Kau tau, aku sangat menyukai nama itu. Lebih daripada menyukai, nama itu sangat berharga bagiku. Terlalu banyak orang berarti yang bernama Kiki dalam hidupku. Ya, nama Kiki memang pasaran, tapi aku yakin Tuhan mengirimkan begitu banyak Kiki yang begitu spesial untukku, pasti ada maksud tertentu, entah apa itu.

Kiki. Wanita yang paling kubanggakan, kusayang, kukagumi, dan sekarang sangat kurindukan. Ibuku. Kiki Afilia namanya. Dia adalah orang nomor satu untukku. Wanita yang tegar, kuat, penuh prinsip, hebat, dan... ah, aku sulit mendeskripsikannya. Mungkin semua anak akan mengatakan ini, tapi sungguh, Ibuku adalah wanita terdahsyat yang pernah kukenal. Dan aku sangat bangga menjadi putrinya. Kini ia sudah tenang dipangkuan Tuhan, dan aku ingin mengenang semua cintanya lewat nama putriku. Aku ingin putriku menjadi orang hebat seperti Ibu.
Kedua, saat aku kecil, aku memiliki seorang shahabat bernama Vicky Wahyu Riyadi, biasa dipanggil Kiki. Dia laki-laki, tapi sangat rajin. Aku banyak belajar tentang patuh pada orang tua darinya. Dia lebih pendiam dariku yang perempuan. Tutur katanya sangat lembut. Aku bertetangga dengan Kiki, jadi kami sangat dekat.

Lalu Rizky Oktavi Alirra, aku memanggilnya Kiki. Dia adalah sepupuku, dan kami seumur. Pernah merasakan memiliki sepupu seusia dan selalu menghabiskan waktu bersama setiap kali liburan? Ya, kami sangat akrab. Walaupun tidak satu sekolah, tapi aku hampir mengenal semua teman-teman dekatnya di sekolah. Begitupun sebaliknya. Kiki sangat seru. Maka dari itu, kami selalu menggila jika sudah bertemu. Seluruh keluarga besar Ayahku tau, aku dan Kiki tidak bisa terpisahkan, seperti saudara kembar. Beberapa orang juga mengatakan kami mirip. Oke, sebenarnya aku sedikit lebih cantik darinya. Maaf, Ki, itu takdir.

Saat aku duduk dikelas 2 SMP, aku memiliki seorang kakak-angkat, errr kau tau. jaman SMP ada istilah "ade ketemu gede", itu maksudku. Namanya Adrian Hakiki. Kak Kiki-ku yang sangat tampan. Banyak anak-anak sekolah yang iri aku bisa dekat dengan Kak Kiki. Beberapa orang yang bertemu denganku akan menyapa dan bertanya "Hai, kamu adek angkatnya Kak Kiki ya?" KEREN! Padahal sebenarnya, ada sedikit beban dihatiku. Kak Kiki benar-benar hanya menganggapku adik, walaupun aku pernah menyukainya seperti seorang perempuan menyukai laki-laki. Baiklah, usiaku masih 12 atau 13 tahun saat itu. Jadi aku hanya merasakan cinta... cinta apa? Ya, cinta beruang! Maaf, aku phobia monyet.

Beranjak SMA, walikelasku saat duduk di kelas 10 bernama Deki Dinanti, aku dan teman-temanku biasa memanggilnya Bu Kiki, atau terkadang Bu Malaikat. Konyol sekali, saat aku mengingat-ingat sekarang. Tapi saat itu, aku dan teman-temanku sangat bangga memanggilnya Bu Malaikat. Bu Kiki sangat baik. Hatinya seperti malaikat, bagi kami. Orangnya sangat lembut. Dan aku adalah salah satu murid yang sangat dekat dengannya. Aku pernah menginap dirumahnya, merasakan jadi anaknya seharian. Dan kasih sayang Bu Kiki membuat kerinduanku terhadap Ibuku menebal dahsyat saat itu. Bu Kiki memiliki putra seusiaku, dan itu salah satu yang membuatku dekat dengan Bu Malaikat ini. Aku sempat berpacaran dengan putranya. Lucu.

Kelas 2 SMA, aku menjadi panitia MOS, dan kenal, lalu dekat dengan seorang junior bernama Rizky Alifa. Seorang gadis keturunan Eropa yang matanya sudah minus 2,75 bahkan disaat aku masih bisa membaca dengan jelas tulisan "Dilarang membuang sampah dilapangan basket, kecuali kerbau!" dari salam kelasku. Tulisan yang terkadang membuat aku dan teman-temanku berpikir untuk membawa kerbau ke sekolah dan menyuruh kerbau itu menghambur-hamburkan sampah di lapangan basket. Konyol. Anak SMA, maklum. Kembali ke Kiki, aku sangat dekat dengan Kiki. Anaknya ternyata sangat menyenangkan. Kau tau, hal terburuk bagi orang yang gemar sharing adalah saat orang itu tidak menemukan orang yang tepat untuk bercerita. Dan aku tidak pernah merasakan itu sejak mengenal Kiki. Aku menceritakan apapun pada Kiki. Bahkan tentang betapa lelahnya aku sejak menjadi leader  ekskul PMR yang anggotanya sangat tidak solid, cerita yang selalu kusimpan sendiri, cerita yang aku tak pernah mengatakannya pada siapapun, kecuali Kiki. Sejak mengenal Kiki, kalimat "Ada beberapa hal dalam hidup yang harus kita simpan sendiri" mulai memudar. Aku benar-benar nyaris mengupas tuntas kisah hidupku dihadapannya. Anugerah Tuhan, Kiki adalah orang yang pandai menyimpan rahasia, dan sungguh, demi derasnya air terjun Niagara, dia adalah seorang pendengan dan juga pencerita yang baik. The right person to sharing with. Berbagi cerita dengan Kiki adalah kebutuhanku, saat itu. Aku juga senang mendengar cerita Kiki tentang keluarganya, terlebih tentang Ibunya. Sedikit banyak ada kesamaan dengan ibuku. Dan itu membuatku selalu teringat pada almarhumah. Sesekali aku sempat membayangkan, jika Ibunya membelai kepalaku, apakah sama rasanya seperti saat Ibu membelaiku dulu? Bertahun-tahun yang lalu. Walaupun usia kami berjarak satu tahun, ups maaf, maksudku 10 bulan, tapi kami tidak pernah sama sekali canggung satu sama lain. Kami benar-benar seperti kakak beradik. Secara usia, dia memang adik kelasku. Tapi tidak secara otak. Aku masih mengingatnya, kami berdua mengikuti tes olimpiade sains di sekolah, dan Kiki mendapatkan nilai tertinggi ketiga sementara aku lolos 10 besarpun tidak. Huh, tidak sopan anak itu. Melangkahi senior, melangkahi kakaknya sendiri! Awas kau, Ki! Dan pula, dia tidak datang ke pesta pernikahanku, karena kesibukannya di Jepang. Dia kini seorang mahasiswi disana, beasiswa. Keren. Kurasa dia memang pantas mendapatkannya. Tapi sesukses apapun dia, harusnya tetap menyempatkan diri untuk hadir di pernikahan kakaknya, bukan? Payah sekali!

Kelas 3 SMA, aku mengenal seseorang bernama Kiki Farhana disalah satu tempatku mengikuti bimbingan belajar. Saat pertama masuk, aku tidak memiliki teman sama sekali, dan Kiki-lah orang pertama yang menyapaku dan mengajakku berteman. Kiki sangat penyayang, dibalik sikapnya yang sedikit tomboy. Kami sama-sama kelas 12, tapi aku menganggapnya seperti kakak. Kiki selalu mengajarkanku tentang bagaimana menghadapi banyak orang dengan sifat yang berbeda-beda. Kiki sangat supel, temannya ada dimana-mana kurasa.

Di semester kelimaku sebagai mahasiswi Jurusan Teknik Kimia di salah satu universitas swasta di Jakarta, aku memiliki beberapa murid didik bimbingan privat, dan salah satunya bernama Tiara Arki Falisha, kelas 2 SMP saat aku mengajarnya. Keluarganya biasa memanggilnya Kiki, begitupun denganku. Kiki adalah murid terbaikku. Dia sangat manis dan cerdas. Kiki sangat pandai bermain piano. Terkadang, dia memainkan beberapa lagu untukku. Kiki adalah murid yang paling dekat denganku dibanding murid-muridku yang lain. Kiki adalah anak yang memiliki semangat yang sangat tinggi untuk belajar. Meskipun kedua orangtuanya tidak terlalu memperdulikan perkembangan nilai-nilai sekolahnya. Semenjak mengenal Kiki, aku sangat ingin memiliki adik perempuan seusianya. Dan saat aku mengatakan itu padanya, Kiki bilang “Aku emang anggep Kakak sebagai Kakakku, bukan guruku. Kakak yang aku sayang dan aku hormati.” KIKI!!! Dimana anak itu sekarang? Aku kehilangan kontak dengannya.

Lalu Arizky Galuh Triani, teman yang kukenal melalui jejaring sosial. Jejaring sosial, ya! Aku juga tak menyangka, perkenalan yang hanya lewat jejaring sosial bisa menyebabhkan persahabatan seperti ini. Aku sangat dekat dengan Kiki. Bahkan aku sesekali berkunjung kerumahnya yang berada di Makassar, begitu juga dengannya. Keluarga kami bahkan sudah sangat dekat. Ayahku sangat menyukai kepribadian Kiki. Kata Ayah, Kiki bisa memberi pengaruh baik terhadapku. Kiki agak pendiam, dan dia sangat penyabar. Aku sering menjahilinya, tapi dia tetap sabar. Aku mengejeknya, tapi dia tetap sabar. Tapi saat aku diam, dia selalu memancingku agar aku mengganggunya. Dasar.
Terakhir kami pergi bersama-sama ke Batam, dan aku meminjam 100 ribu padanya karena kekurangan uang untuk pulang saat itu. Sampai sekarang aku belum melunasinya, selalu lupa. Tapi saat dia datang ke pesta pernikahanku, dia bilang bahwa dia sudah mengikhlaskan uang itu sejak aku meminjamnya. Kenapa orang itu tidak mengatakannya sejak awal? Bertahun-tahun aku terganggu oleh hutang itu!

Selanjutnya adalah Rizky Arizaldy. Apa kau pernah berpikiran sama denganku? Kenapa banyak sekali nama Rizky di dunia ini? Untuk kalian yang bernama Rizky, pernah menanyakan alasan orang tua kalian memberikan nama itu? Baiklah, lupakan itu, kembali ke laki-laki bernama Rizky Arizaldy. Dia adalah seniorku yang selalu ada disampingku saat aku benar-benar membutuhkan teman untuk melalui masa-masa kerja keras dalam menyusun skripsi. Bang Kiki, begitu aku biasa memanggilnya, dia sangat setia membantuku dan mendengarkan keluhanku. Sampai aku menjadi seorang sarjana. Bang Kiki yang paling banyak membantuku. Kau tau kan, menyusun skripsi sama beratnya dengan melahirkan. Mempertaruhkan hidup dan mati.

Melahirkan… tunggu, kemarin adalah pertama kali aku melahirkan! Aku hampir lupa bahwa aku belum resmi memberinya nama Kiki. KIKI. Nama putriku harus Kiki.
“Terserah deh, Ayah mau kasih nama siapa aja, tapi panggilannya Kiki,” pintaku merengek pada laki-laki yang beberapa hari terakhir tak pernah pergi jauh dari sisiku.
“Enggak! Cari nama lain aja!” ucapnya, tegas namun lembut.
“Ibu maunya Kiki, Yah!” aku sedikit memaksa.
“Cari nama yang lain aja! Gimana kalo Zahra?” usul pria itu.
“Tapi panggilannya Kiki, ya?”
Laki-laki berkacamata disampingku menghela nafas panjang. Tetap kekeh tidak mau memberikan nama Kiki pada putri kami. Menyebalkan sekali orang ini!
“Iya, cari nama lain aja,” ujar Ibu mertuaku dengan lembut. Diikuti dukungan dari keluarga lain. Keluarga yang sangat menyayangiku, tapi hari ini mereka sedang tidak asik.
“Gimana kalau Alyssa?” kali ini Ayahku yang bersuara.
“Tapi aku maunya Kiki…” ucapku pelan. Bergumam lemah.
“Udah kita cari nama lain aja, ya,” rayu laki-laki berkaca mata tadi seraya membelai kepalaku. Laki-laki yang sudah 9 bulan terakhir ini menjadi laki-laki terbaik yang pernah kutau, selain Ayahku. Tapi hari ini dia sangat menyebalkan. Seluruh keluargaku juga. Semua membelanya.

Ah, sudahlah, sepertinya aku harus mengubur harapanku untuk memanggil anakku dengan panggilan “Kiki sayang”. Baik, baik, aku mengalah. Tidak memberi nama Kiki pada anakku bukan berarti aku melupakan kalian semua, Kiki-kiki-ku. Percayalah.
Ohya, karena terlalu menyebalkan, aku sampai lupa menceritakan tentang orang itu. Laki-laki yang pertama dan, kuharap, yang terakhir ada dalam kehidupan rumahtanggaku. Pria yang sangat kusayangi, dan sangat menyayangiku. Dia sangat baik, ramah, dan sangat penyayang. Pasangan idaman semua wanita, mungkin. Tapi tidak untuk hari ini. Lagi-lagi kukatakan, dia sangat menyebalkan. Baru kali ini aku memperkenalkannya dengan kesal, biasanya aku selalu menyanjungnya. Baiklah, dia adalah suamiku. Fadlian Fikry, namanya. Orang-orang biasa memanggilnya Kiki.

Thursday, September 2, 2010

Buku Harian Lama



20 Januari 2001
Akhirnya Figo menembakku, aku senang bukan main. Aku menyukainya sejak pertama kali dia masuk ke sekolah ini, dia mengenakan atribut orientasi, dan aku dengan sesuka hati membentaknya. Ya, tugasku sebagai senior memang seperti itu.
Hari ini Figo terlihat sangat dewasa dan romantis. Usianya tak nampak seperti anak kelas 2 SMA, tapi wajahnya tetap terlihat imut dan manis.
Figo menembakku di lapangan sekolah, dengan menerbangkan 10 balon dilengkapi spanduk kecil bertuliskan “I LOVE YOU AIKA!!!”
Aku senang, sangat senang. Ah, aku bahkan tak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata.
Huh, I love you, Figo :)
***
01 Maret 2001
Hari ini Figo memberikan setangkai bunga mawar untukku. Ah, ia sangat romantis. Setiap hari, ia selalu membuatku semakin menyukainya.
Tuhan, aku ingin terus ada bersama Figo, sampai aku tua, selalu disampingnya.
***
26 Juni 2001
Hari ini Figo mengajakku kerumahnya. Ia mengenalkanku pada ayahnya yang sangat baik dan bijaksana, juga adiknya yang lucu. Ibunda Figo sudah meninggal dunia, maka dari itu, aku senang bisa berada disamping Figo, untuk mengisi kesepiannya karena ditinggal sang mama. Aku semakin menyayanginya.
***
31 Januari 2002
Aku sempat bertengkar dengan Figo. Kekanak-kanakannya sering muncul semenjak aku mulai aktif kuliah. Rasa cemburunya terkadang berlebihan. Aku kesal. Terlebih ia suka mengabaikan tugas sekolahnya hanya karena marah padaku, padahal ia sudah kelas 3 dan harus punya persiapan untuk Ujian Nasional.
Emmmm, baiklah, besok aku akan datang ke sekolah dan menemaninya belajar seharian, mungkin suasana hatinya akan lebih baik. Semoga saja.
***
31 Juli 2004
Usia hubunganku dengan Figo sudah 3,5 tahun. Tidak kusangka. Tapi akhir-akhir ini hubunganku dengannya agak renggang. Walaupun dengan keluarganya, aku baik-baik saja, bahkan semakin dekat. Tapi Figo… kami mulai jauh. Aku merasa ada yang aneh dengan perasaanku, entah mengapa, tapi …………….. ah, aku tak tahu bagaimana cara menjelaskan perasaan ini.
Terlebih setelah kejadian malam itu, saat aku menginap dirumah Figo.
Aku ……………..
Aku benar-benar sulit menjelaskannya.
Diary, kau tau, aku menagis saat ini.
***
29 Oktober 2007
Diary, mungkin ini akan menjadi yang terakhir kali aku menulis. Sudah beberapa buku diary kusimpan, isinya hanya Figo, Figo dan Figo. Aku selalu menulis tentang dia, walaupun hanya selembar perbulannya.
Aku senang bisa menulis tentang orang yang aku cintai. Aku sangat mencintai Figo. Dan entah sampai kapan perasaan ini akan terus ada.
Tapi sebelum aku menutup buku ini, aku ingin memamerkan baju pernikahanku. Kebaya putih yang sederhana, tapi sangat cantik. Akhirnya, cabang bayi dikandunganku ini akan memiliki ayah yang sah.
Diary, dibalik kepahitan ini, aku akui aku senang, akhirnya bisa menghabiskan sisa hidupku didekat Figo, satu-satunya pria yang aku cintai. Apapun yang telah dan akan terjadi. Dihatiku hanya ada Figo. Satu.
“Kamu sedang apa, Figo?” tanya Aika lembut sesaat setelah membuka pintu kamar dan mendapati Figo tengah membaca sebuah buku disamping tumpukan buku-buku. “Ini sudah saatnya makan malam,” tambah Aika.
Figo menutup buku diary itu. Aika datang tepat disaat Figo menjangkau kata terakhir. “Aku lagi baca buku-buku diary Ibu,” ucap Figo ringan sambil tersenyum manis kearah Aika. “Ternyata dulu itu kita pasangan yang nyaris sempurna ya, Bu?” ujar Figo. Senyum manisnya lama kelamaan terasa hambar, dan bahkan pahit. Ada seperti air mata yang tertahan di garis bawah matanya.
Aika tercekat, tak tahu harus berkata apa. Ia merasa tenggorokannya terhantam kayu yang sangat besar, dan seperti ada jutaan kerikil yang menyumbat saluran peredaran darahnya. Ia sadar, wajahnya pasti sangat pucat saat itu.
Untuk beberapa saat, hening menguasai ruangan yang tiba-tiba terasa sangat dingin itu. Sampai akhirnya datang seorang anak berusia 6 tahun yang membuyarkan rapat para petinggi kerajaan sunyi itu.
“Ibu, dipanggil Ayah tuh, kata Ayah manggil Mas Figo-nya jangan kelamaan!” tutur anak itu pada Aika, lalu diiringi lirikan kearah kakak tiri yang namanya baru saja ia sebutkan.

Menanti Kabar Sang Ayah

Aku duduk menantang angin malam, sendirian. Ini sudah malam ke-empat aku termangu di balkon rumahku, menunggu Ayah.
Ayahku pergi 5 hari yang lalu kesuatu tempat di luar kota, dan 2 hari setelah keberangkatan Ayah, terjadi gempa hebat yang meluluhlantahkan hampir seluruh daerah di kota kecil itu, kota tempat tujuan Ayah.
Hampir seluruh tetangga iba melihatku, anak laki-laki pincang berusia 10 tahun yang hampir sepekan ini menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu kabar kepastian sang ayah.
***
Pagi ini adalah hari kesembilan setelah berita kejadian gempa itu, namun aku belum mendapatkan kabar tentang Ayah. Setelah menyuapi ibu sarapan pagi, aku kembali melakukan ritual yang sudah lebih dari sepekan ini aku lakukan, memeluk lutut di balkon rumahku, tak sabar menanti kepastian kabar Ayah.
Setiap hari, jantungku berdetak berkali-kali lebih cepat jika mengingat betapa dahsyatnya gempa itu. “Apakah Ayah selamat? Atau….” Kalimat semacam itu yang selalu membanjiri hampir seluruh isi kepalaku. Lalu seutas doa terpanjat dalam hatiku, selalu, kemudian kuamini.
Kadang, tubuhku bercucuran keringat dingin, itu ketika aku mengingat masa-masa bersama Ayah. Aku gelisah. Mengapa aku belum juga mendapat kabar tentang Ayah? Lalu seperti biasa, sebait harapan kupanjatkan pada Yang Maha Kuasa.
Tiba-tiba ada keramaian yang membuyarkan lamunanku. Rangkaian kenangan tentang Ayah terurai seiring semakin kencangnya suara sirine ambulance.
Tepat di depan rumahku, sebuah mobil putih berhenti. Tiba-tiba jantungku berdetak sangat cepat, tak terkendali. Denyut nadiku tak berirama lagi. Tanganku gemetar, dan basah.
Sudah 9 hari aku menunggu, dan akhirnya aku akan melihat lagi wajah Ayah. Aku yakin, sangat yakin bahwa Ayah ada didalam mobil putih itu.
Sambil mencoba mengatasi segala macam kekacauan yang kurasakan, aku setengah berlari menuruni jajaran anak-anak tangga yang entah mengapa terasa lebih banyak dari biasanya.
Aku membuka pintu depan. Sepertinya aku sudah ditunggu.
Entah dengan ancang-ancang atau tidak, seorang wanita memelukku erat, sangat erat. Sampai-sampai luka dibagian punggungku yang sudah hampir sembuh, terasa sakit kembali saat wanita itu mengelus-elusnya sambil samar-samar berkata “Sabar ya! Kamu yang sabar!” ditengah-tengah isakannya. Aku merasa ada yang menetes di dahiku, air mata wanita itu rupanya.
Wanita itu melepas pelukannya, tapi akupun tak melakukan apa-apa selain berdiri didepan wanita yang merupakan tetangga terdekatku tadi. Aku menyapu sekeliling rumah dengan pandanganku, ada banyak sekali warga. Wajah mereka murung, sedih, dan bahkan ada beberapa yang pipinya dibasahi air mata.
Kini jantungku seperti berhenti berdetak. Pikiranku mulai menerka-nerka apa yang kira-kira terjadi pada Ayah. Entah bagaimana mimikku saat ini, aku bahkan tak sempat mengaturnya.
Sejurus kemudian, lewatlah 4 orang pria berpakaian putih. Sepertinya para perawat. Mereka membawa… errr… entahlah, aku tak tahu apa nama besi persegi panjang itu, tapi aku tahu diatasnya terdapat seseorang yang seluruh tubuhnya ditutupi selimut. Apakah itu Ayah? Bahkan aku masih bertanya-tanya.
Wanita tadi lalu menuntunku masuk ke dalam ruang tamu rumahku yang saat ini sangat ramai, kontras dengan hatiku yang hampa.
Aku duduk tepat disamping seseorang yang berbaring itu. Pikiranku kosong sesaat, bahkan aku seperti tidak bisa merasakan apa-apa.
Perlahan, wanita tadi membuka selimut yang menutupi wajah… Ayah! Dia benar-benar ayahku! Salah satu korban gempa yang dinyatakan tewas. Wajahnya sangat pucat dan dipenuhi luka-luka mengerikan.
Walaupun aku sudah sempat menerka-nerka, tetap saja berbeda saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri wajah Ayah. Ayahku kini hanya tinggal jasad. Nafasku sepertinya berhenti.
Entah apa yang menjadi pemacu otot-ototku, aku berdiri dan pergi menerobos kerumunan orang-orang yang kutahu pasti merubah pandangannya terhadapku, dari iba, menjadi heran.
Tapi aku tak peduli. Seperti halnya aku tak peduli dengan keadaan tubuhku. Aku tak merasa pincang kali ini, semua luka-luka ditubuhku pun hilang sakitnya. Kurasa, aku mati rasa.
Ah, persetan dengan apa itu yang disebut rasa. Aku terus berlari menuju kamar paling belakang, tempat ibuku berada. Aku tau rumahku memang cukup besar, tapi sepertinya jarak antara ruang tamu dan kamar ibuku tidak sejauh ini. Kali ini jarak kedua ruangan itu, entah mengapa, jauh lebih jauh.
Aku sampai. Lalu masuk kedalam ruangan besar itu. Sambil mengatur nafas, aku berjalan menuju ke salah satu sudut kamar, tempat dimana ibuku duduk lemas disana.
“Ibu…” panggilku pelan sesaat setelah kakiku berhenti melangkah, aku berada kira-kira 1 meter di depan Ibu.
Ibu menatapku kosong.
Kuhela nafas panjang. “Dia sudah pulang,” ucapku kemudian.
Mata Ibu melebar, walau tetap kosong. Wajahnya terangkat. Aku tahu ia sangat terkejut mendengar kabar yang aku berikan. Tampak sedikit kecemasan dari raut wajah pucat pasinya.
“Tanpa nyawa…” aku melanjutkan kalimatku. “Dia… tewas.” Titik. Aku tahu Ibu tak memerlukan penjelasan apa-apa lagi.
Wajah cemas Ibu seketika berubah cerah saat seutas senyum lega menghiasi wajahnya.
Aku pun tersenyum, sama lepasnya dengan senyum Ibu. Senyum yang sudah sangat lama tak nampak diwajahku, ataupun Ibu.
Jujur, aku tidak pernah sebahagia ini. Terlebih bisa melihat wanita yang selama ini menanggung perih yang sangat dalam, akhirnya tersenyum.
Aku menghampiri kursi roda Ibu dan mendoronnya keluar kamar, menuju ruang tamu.
“Gak sia-sia penantian kita, Bu. Akhirnya Tuhan mengabulkan doa kita. Mulai hari ini, hidup kita bebas dari manusia laknat itu,” ucapku pada seorang wanita paruh baya yang cacat dan buta, karena kelakuan setan sang suami.

About Me

My photo
Tangerang, Banten, Indonesia
bukan penulis, bukan pengarang, hanya pecinta keduanya.