Pernahkah
kau mencintai seseorang sampai kau merasa tidak ada lagi orang lain yang kau inginkan
dalam hidupmu kecuali orang itu? Pernahkah kau menyayangi hati yang seakan-akan
kau ingin menjaganya sampai kau mati? Pernahkah kau benar-benar tergila-gila
pada seorang gadis hingga tidak ada sepersekian detik pun dalam hari-harimu
tanpa ia muncul di lintasan benakmu? Pernahkah kau membutuhkan seseorang hingga
kau rela dimusuhi oleh seluruh penduduk dunia asalkan bisa ada disampingnya?
Tidak, penduduk dunia tidak memusuhiku, sebenarnya. Mereka bahkan tidak mengenalku.
Ini hanya perumpamaan, oke?
Wednesday, September 12, 2012
Monday, August 6, 2012
Bukan Satu
NOTE:
There was a nice fict titled "NOL" created By Hadiqal:
http://aboxofglass.blogspot.com/2012/07/nol.html
And this is the other point of view :)
______
There was a nice fict titled "NOL" created By Hadiqal:
http://aboxofglass.blogspot.com/2012/07/nol.html
And this is the other point of view :)
______
Tik… Tik…
Tik…
Pukul 3 pagi, aku menatap jam weker digital di
meja kamarku. Memastikan dua titik di tengah angka pada jam itu tetap hilang,
muncul, hilang, muncul, dan terus seperti itu dengan jarak waktu yang sama,
tidak bertambah cepat. Seperti tidak pernah mengenal kata bosan sepanjang
perjalanan rumahtanggaku, aku menunggu Reza, suamiku, masuk kedalam kamar.
Lama, dan tak juga terdengar tanda-tanda
langkah kaki mendekati kamar kami. Mungkin suamiku sangat sibuk diruangannya.
Aku bangkit dan menuju kamar kerja Reza.
Perlahan kubuka pintunya. Sejenak, kupandangi tubuhnya yang tampak begitu
lelah, wajahnya yang sedikit pucat pasi, dan sinar matanya yang tak jelas
memancarkan warna apa. Terlalu banyak yang harus ia pikirkan, sepertinya.
“Reza,” aku memanggil namanya, lembut.
“Apa?” sahutnya, dingin, dan tanpa menoleh
sedikitpun kearahku. Sama seperti malam-malam sebelumnya.
Saturday, August 4, 2012
Stephani
Entah
sugesti apa yang diberikan gadis gila ini dan entah bagaimana caranya, aku
melepas predikat perempuan malasku dan mulai mencari pekerjaan yang
menghasilkan cukup uang. Untuk makan, membeli pakaian, dan untuk pengobatan.
Ya, aku pernah berjanji pada diriku sendiri akan membawa Stephani –aku
mengetahui namanya dari KTP yang kutemukan didalam tas lusuh yang kubawa dari
rumah tempat aku menemukannya dulu- ke rumah sakit, jika uangku terkumpul lagi
setelah membelikannya kursi roda. Bukan terlalu baik, tapi apa kau mau
menggendong kemana-mana orang yang tinggi dan berat badannya hampir sama
denganmu?
Saturday, February 18, 2012
DENDAM
Jangan salahkan aku jika sekarang aku mencintainya. Kau yang mengenalkan Tifara padaku, Gira. Kau pasti tak menyangka bahwa kau adalah sumber kekacauan hidupku. Karena dirimu, aku hancur. Bayangkan, aku mencintai gadismu. Aku mencintai kekasih shahabat baikku. Dan cintai itu benar-benar membuat aku gila. Bayangkan!
Tuesday, January 24, 2012
DULU
Dulu. Sebuah kata yang sungguh sangat memilukan. Berani taruhan, apapun yang diiringi dengan kata itu akan berujung dengan kepedihan. Paling tidak, itu yang selalu terjadi padaku.
Aku berjalan diantara pohon-pohon pinus yang berbaris rapi dan tegap. Angin sore yang membelai rambutku sangatlah sejuk. Namun tak jua menyejukkan hatiku yang hampa terbelenggu oleh semua kenangan. Dulu. Dan sangat menyakitkan.
Aku menepi, dan bersandar disalah satu pohon ditaman itu. Dulu, aku pernah melihat orang yang paling kucintai menggendong gadis lain di seberang tempat ini. Aku mendekatinya dengan hati galau yang tak bisa kujelaskan. Kai dengan cepat menjelaskan bahwa gadis itu adalah temannya, dan kakinya terluka sehingga ia harus menggendongnya. Tapi aku kalut. Marah. Emosi. Aku berlari meninggalkannya saat itu. Dan sekarang, aku hanya tertawa kecil mengingatnya. Seperti melihat lagi adegan-adegan itu didepan mataku. Kenangan pahit. Menyakitkan. Bukan karena perempuan itu, tapi karena aku tak bisa lagi menunjukkan rasa cemburuku dihadapannya seperti dulu.
Aku bangkit dari bayang-bayang itu, kembali melangkahkan kakiku dan beranjak menuju bangku panjang kosong disalah satu tepi jalan. Kuhampiri, lalu aku duduk diatasnya. Diam. Diserbu jutaan keping rerun masa lalu. Aku pernah duduk disini bersama Kai. Bukan pernah, tapi sangat sering. Kai sangat suka merangkulku dan membiarkanku bersandar dibahunya. Sangat menenangkan. Aku lalu mengarahkan pandanganku pada seorang penjual permen gula diseberangku. Kai sering membelikanku permen itu. Kai sangat baik. Dia yang terbaik yang pernah kumiliki. Dan sekarang aku merindukannya. Merindukan Kai dan semua kenangan bersamanya. Kenangan manis yang sekarang terasa sangat menyakitkan.
Aku terperangkap pada perbedaan masa dimana sekarang semua itu benar-benar hanya masa lalu yang aku tak bisa kembali kesana. Tak bisa kembali pada Kai. Kami telah berpisah, dan semua orang tau itu. Sedang apa Kai sekarang, bagaimana keadaannya, apa ia baik-baik saja, apa ia merasa kesepian tanpaku, dan pertanyaan lain semacam itu selalu memenuhi benakku. Semua yang terjadi dimasa lalu benar-benar mengiris hatiku saat aku menyadari bahwa semua itu benar-benar sudah berlalu. Tak ada lagi Kai. Tak ada lagi kami.
Aku bangun dan kembali menyusuri jalan taman yang dipenuhi daun-daun kering yang berguguran. Terus berjalan hingga ujung taman. Berbelok, aku masuk kesebuah taman lain diujung taman yang baru saja kulewati. Merah tanah dan hujau rumput disepanjang pandangan mataku. Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak taman itu dan menghampiri seseorang yang sedang berdiri seorang diri disana.
Aku berhenti tepat disampingnya. Kutatap wajah laki-laki itu. Matanya merah dan berair. Nafasnya tersenggal.
“Aku baik-baik saja,” tutur pria itu, lirih. “Bahkan sangat baik untuk terus mencintaimu hingga seratus tahun kedepan,” lanjutnya sambil menahan isak.
Aku menatapnya sendu. Kai-ku.
“Jangan pernah merasa kesepian, aku akan terus berada disisimu,” ujarnya lagi seraya meletakkan satu buket bunga diatas batu nisan bertuliskan namaku.
Sesaat bergeming, ia lalu melangkah pergi setelah sebelumnya menyeka air mata yang nyaris membasahi pipinya.
Monday, January 23, 2012
Penghuni Lama Rumah Jalan Anggrek Nomor 31
Aku berdiri didepan sebuah rumah bernomor 31 di Jalan Anggrek. Rumah yang tidak pernah lagi kuinjak sejak dua bulan lalu, namun selalu kuawasi.
Ada seorang kakek pegawai pos yang sedang terbingung-bingung setelah keluar dari pagar rumah itu. Ia menggaruk-garuk kepalanya sambil memandangi bangunan yang ada didepannya.
“Kakek,” sapaku seraya menghampirinya.
“Kau…” tanggap kakek itu, wajahnya sangat tampak terkejut melihatku.
Saturday, January 7, 2012
Jalan Anggrek Nomor 31
“Permisi!” teriakku, sambil membawa sekotak pizza berukuran kecil didepan sebuah rumah bernomor 31. “Permisi!” teriakku lagi. Tak mendengar jawaban, akhirnya kubuka pintu pagar yang tidak terkunci itu. “Permisi! Harmony Pizza!” teriakku lagi, berharap seseorang yang sedang kelaparan menunggu, keluar dengan antusias menjemput pizza yang dipesannya.
Lama. Tak juga ada jawaban. Aku sedikit melongok kedalam rumah lewat pintu yang memang tidak ditutup itu, bahkan terbuka cukup lebar. Tidak kosong. Ternyata ada seorang gadis yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
“Permisi, Nona!” ucapku lagi.
Sang gadis hanya diam. “Nona, Harmony Pizza datang!” lagi, sedikit lebih keras, memastikan suaraku terdengar oleh gadis itu.
Tidak juga mendapat respon, meski sedikit takut dianggap tidak sopan, perlahan aku mulai melangkah masuk kedalam.
“Maaf, Nona, anda pesan pizza?” tanyaku pelan, seraya sedikit menunduk untuk mengjangkau mata gadis yang sedang duduk sendiri menghadap kearah televisi itu.
Merinding. Tiba-tiba seperti ada angin yang meniup lembut leherku. Aku merasa ada keanehan pada gadis ini. Tak sedikitpun gadis itu bertingkah seperti ada seseorang yang masuk kerumahnya. Ia hanya diam. Duduk dengan tatapan kosong kearah televisi yang sedang sibuk mempertontonkan sebuah tayangan tanpa suara.
Subscribe to:
Posts (Atom)
About Me
- 919
- Tangerang, Banten, Indonesia
- bukan penulis, bukan pengarang, hanya pecinta keduanya.



