Cerita ini hanya fiktif belaka. Apabila ada kesamaan nama atau cerita, hal tersebut murni tidak disengaja.
Aku melangkah memasuki lobby sebuah gedung mewah milik pemerintah yang berdiri kokoh di pusat Ibu Kota. Kuhampiri meja receptionist yang dijaga oleh dua wanita cantik dengan rambut klimis yang disanggul rapi.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya salah satu receptionist di hadapanku dengan ramah.
“Saya mau ketemu Pak Binarta Dandrearta,” ucapku
santai.
“Apa Anda sudah membuat janji?” tanya wanita itu lagi.
“Emm… belum sih,” jawabku. “Tapi bilang aja kalo Natasha
Arta mau ketemu,” aku menambahkan.
“Maaf, Anda tidak bisa bertemu kalau belum membuat
janji dengan beliau.”
