Tuesday, October 23, 2012

Cerita Cinta Pertama

Another challenge nih. Setelah Mr. Ladang Mentega alias Diqal (pake Q bukan pake K) nantang buat bikin cerita 'NOL'-nya dalam POV tokoh lain, sekarang dia nantangin buat bikin cerita happy ending. HAPPY ENDING? Denger kata itu, gue langsung ngecek isi blog gue dan ternyata gue emang gak menemukan cerita happy ending sama sekali. Oke, happy ending sih, tapi happy dalam sudut pandang yang gimana dulu. Dan ini hasilnya. Iya, spoiler, cerita ini bakal happy ending. Dan ternyata susah banget bikin cerita berakhir bahagia (yang dari awal orang udah tau kalo endingnya bakal bahagia, TAPI HARUS TWIST. Susah banget. Jadi, maklum kalo hasilnya kurang maksimal. Enjoy~

~~~

“Jadi… kamu mau jadi penulis?” tanya pria berkumis tipis di depanku, salah seorang petinggi di sebuah penerbitan ternama.
Aku mengangguk pelan.
Laki-laki berkacamata yang terhalang sebuah meja kerja berlapis kaca hitam itu ikut mengangguk-angguk. “Pernah nulis cerita dan dimuat di majalah?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng pelan.
“Gak pernah?” tanyanya lagi, memastikan, atau entah apa namanya, yang pasti aku tak suka nada bicaranya kali ini. Seperti meremehkan.
“Mungkin belum, bukan enggak,” tanggapku, berusaha sesopan mungkin.
Pria di hadapanku tertawa. Astaga, tawanya pun tawa meremehkan.
“Katanya kamu bawa tulisan karya kamu untuk saya baca?” tanya laki-laki itu.
“Oh, iya iya, saya bawa,” ucapku sambil memberikan beberapa lembar kertas yang sedari tadi kuletakkan di atas pahaku.
Ia mengambilnya, dan dengan wajah serius mulai membacanya.


Friday, October 19, 2012

Drama


Namaku Dion, dan perempuan yang sedang menangis di sampingku adalah Safira. Kau bisa memanggilnya Fira, atau Safi dengan aksen Sunda jika kau sedang kesal padanya. SAPI!!!
Pertunjukan selesai, tirai panggung ditutup, dan lampu teater dinyalakan. Wajah Fira benar-benar banjir air mata. Lebih menyeramkan dari yang kukira. Aku mengernyit. “Kenapa nangis? Ini kan, cuma drama!” ucapku sambil berdiri.
Fira ikut berdiri. “Kan, sedih Yon,” jawabnya sambil mengusap-usap wajahnya.
Lebay banget.
“Tapi tetep aja cuma drama!”
“Walaupun drama, tetep aja sedih!” ia memelototiku. Seram.

Thursday, October 18, 2012

TUNGGU!!!


Namaku Safira, dan orang yang sedang menggendongku ini bernama Dion. Kenapa? Tampan? Kau suka? Ah, kau bahkan tidak punya waktu untuk sekedar mencukur kumismu, bagaimana kau bisa meluangkan waktu untuk menyukai Dion?
Dion sangat tampan. Seluruh penghuni planet bumi beserta masing-masing malaikat penjaga tau itu. Dan orang-orang bilang sih, aku dan Dion adalah pasangan paling cocok seantero jagat raya. Aku hanya tertawa setiap mendengar kalimat itu. Aku dan Dion sudah berteman sejak kami baru mengerti bahwa 2 dikali 2 sama hasilnya dengan 2 ditambah 2. Kami sudah bersahabat, oh malah berkeluarga sejak kecil. Bukan, bukan berkeluarga yang seperti itu maksudnya.
Kakiku terkilir barusan, saat pengambilan nilai basket. Aku tidak suka basket, Dion tau itu. Ah, apa sih, yang Dion gak tau tentang aku? Begitupula sebaliknya. Aku tau apapun tentangnya. Ya, apapun. Termasuk…..

Friday, October 12, 2012

The Guardian




Aku menatap Fakhri dari depan kelasku. Senyum yang selalu ia berikan pada setiap orang yang menyapanya, sinar yang selalu hangat terpancar dari matanya, dan tutur kata lembutnya yang kuyakin tak ada seorangpun yang bosan berbicara lama-lama dengannya.
Miris. Kenapa ia sangat berbeda? Aku kembali mengingat kejadian kemarin malam, saat Fakhri memarahi seorang anak usia 3 tahun dengan –menurutku- cukup kasar.
Aku baru saja selesai mandi saat kudengar Fakhri sedikit berteriak dari ruang tengah.
"Ini tuh, huruf D!" teriak Fakhri. "Bisa bilang D gak sih?! Dari tadi A B C terus, gimana mau bisa?!" lanjutnya.
Aku cepat-cepat membungkus rambutku yang masih basah dan lari ke ruang tengah, tempat Fakhri -seharusnya- mengajarkan putrinya mengenali huruf.
"Ini tuh, huruf D! DE!!!" teriak Fakhri sambil menunjuk, oh tidak, ia menekan huruf D di buku panduan pengenalan huruf di depannya.
Aku langsung meraih anak perempuan mungil yang sekarang sedang menangis ketakutan dipelototi ayahnya, bukan sedang mendapatkan pelajaran seperti yang aku ucapkan sebelum aku melangkah ke kamar mandi, "Belajar baca dulu ya, sama Ayah."
Ah, laki-laki ini. Aku tak habis pikir bagaimana ia bisa membentak anak usia 3 tahun hanya karna tidak mengenali huruf D. Aku tak berkata apa-apa, hanya menggendong Kaira, mencoba menenagkannya, sambil menatap kesal kearah ayahnya.

Jangan Pergi Sekedar Pergi, Bodoh!

Bukankah aku sudah pernah bilang, jangan buat aku menjadi ketergantungan!
Kau bilang, “aku hanya menyayangimu dan bukan ingin membuatmu membutuhkanku”
Sampah!
Kau berkata seenakmu
Tanpa tau
Aku
Disakiti oleh kalimat itu

Karena cahaya itu masih selalu berpendar melalui salah satu arteriku
Cahaya indahmu
Yang menghangatkanku, dulu
Dan terlalu panas untuk kurasakan saat ini hingga nyaris membunuhku

Wednesday, September 12, 2012

Beyond Love


Pernahkah kau mencintai seseorang sampai kau merasa tidak ada lagi orang lain yang kau inginkan dalam hidupmu kecuali orang itu? Pernahkah kau menyayangi hati yang seakan-akan kau ingin menjaganya sampai kau mati? Pernahkah kau benar-benar tergila-gila pada seorang gadis hingga tidak ada sepersekian detik pun dalam hari-harimu tanpa ia muncul di lintasan benakmu? Pernahkah kau membutuhkan seseorang hingga kau rela dimusuhi oleh seluruh penduduk dunia asalkan bisa ada disampingnya? Tidak, penduduk dunia tidak memusuhiku, sebenarnya. Mereka bahkan tidak mengenalku. Ini hanya perumpamaan, oke?

Monday, August 6, 2012

Bukan Satu

NOTE:
There was a nice fict titled "NOL" created By Hadiqal:
http://aboxofglass.blogspot.com/2012/07/nol.html 

And this is the other point of view :)
______



Tik… Tik… Tik…
Pukul 3 pagi, aku menatap jam weker digital di meja kamarku. Memastikan dua titik di tengah angka pada jam itu tetap hilang, muncul, hilang, muncul, dan terus seperti itu dengan jarak waktu yang sama, tidak bertambah cepat. Seperti tidak pernah mengenal kata bosan sepanjang perjalanan rumahtanggaku, aku menunggu Reza, suamiku, masuk kedalam kamar.

Lama, dan tak juga terdengar tanda-tanda langkah kaki mendekati kamar kami. Mungkin suamiku sangat sibuk diruangannya.

Aku bangkit dan menuju kamar kerja Reza. Perlahan kubuka pintunya. Sejenak, kupandangi tubuhnya yang tampak begitu lelah, wajahnya yang sedikit pucat pasi, dan sinar matanya yang tak jelas memancarkan warna apa. Terlalu banyak yang harus ia pikirkan, sepertinya.

“Reza,” aku memanggil namanya, lembut.

“Apa?” sahutnya, dingin, dan tanpa menoleh sedikitpun kearahku. Sama seperti malam-malam sebelumnya.

About Me

My photo
Tangerang, Banten, Indonesia
bukan penulis, bukan pengarang, hanya pecinta keduanya.