~~~
“Jadi… kamu mau jadi penulis?” tanya pria
berkumis tipis di depanku, salah seorang petinggi di sebuah penerbitan ternama.
Aku mengangguk pelan.
Laki-laki berkacamata yang terhalang sebuah
meja kerja berlapis kaca hitam itu ikut mengangguk-angguk. “Pernah nulis cerita
dan dimuat di majalah?” tanyanya lagi.
Aku menggeleng pelan.
“Gak pernah?” tanyanya lagi, memastikan, atau
entah apa namanya, yang pasti aku tak suka nada bicaranya kali ini. Seperti meremehkan.
“Mungkin belum, bukan enggak,” tanggapku, berusaha
sesopan mungkin.
Pria di hadapanku tertawa. Astaga, tawanya pun
tawa meremehkan.
“Katanya kamu bawa tulisan karya kamu untuk saya
baca?” tanya laki-laki itu.
“Oh, iya iya, saya bawa,” ucapku sambil
memberikan beberapa lembar kertas yang sedari tadi kuletakkan di atas pahaku.
Ia mengambilnya, dan dengan wajah serius mulai
membacanya.


